Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 November 2014

When I'm Fallin in Love



Jatuh cinta, setiap orang pasti pernah yang mengalami jatuh cinta. Dan itu yang kurasakan sekarang.

Tiap hari ingin selalu mendengar suaranya, ya kami terpisah jarak yang lumayan jauh. Hanya telepon, dan media social yang bisa mendekatkan jarak yang terbentang.

Tiap selesai kerjaan pagi, saya yang kebetulan kerja di back office berusaha untuk menyempatkan diri untuk mendengarkan kabar darinya, bercerita tentang apa yang telah dan akan dilakukan, membagi sapaan sayang, dan endingnya pasti berat buat nutup telpon.

Hari ini, saya tak berdaya dibuatnya jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Mendengar suara bangun tidurnya, menemani hingga dia mampu membuka mata dengan sempurna, dan bercerita tentang teman kuliahnya. Rasanya, ingin berada di dekatnya sekarang.

Cerita cinta kami bak jalanan terjal yang penuh dengan batu. Tak selamanya kita saling bergandengan tangan menerjang semua rintangan yang ada, ada kalanya aku lepas tanganku dan membiarkan kita berjalan sendiri-sendiri, tapi hal itu sungguh menyiksa. Memang yang namanya perasaan tidak pernah bohong. Aku masih mencintainya.

Dan sekarang, rasa ini semakin nyata.
Rasa rindu yang selalu membalut raga.
Haus mata saat ingin memandang manis wajahnya.

Bersanding bersamanya, melihatnya dalam tiap detik, menemani tiap langkah.

Sungguh aku jatuh cinta dibuatnya.

Minggu, 23 September 2012

Bersama, menggapai ridho dari-Nya


Allah memang Maha Memutar Balikkan Rasa. Ketika rasa benci itu berubah menjadi rasa nyaman dengan ketukan lembut perkenalan dengannya. Memang benar kata orang, benci dan cinta itu beda tipis. Dari benci jadi suka, dari suka menjadi nyaman, dari nyaman menjadi  sayang. Ku lebih suka menyebutkan sayang daripada cinta, karena sayang mempunyai makna yang lebih dalam dari sekedar cinta yang menurutku tak juah dari nafsu birahi semata.

Allah memang Perencana dan Sutradara yang Sempurna.  Saat ku berharap untuk bisa didampingi oleh orang yang usianya diatasku, dan Allah memenuhinya. Saat ku pernah berucap, “ketika calon suamiku lebih mencintai Allah daripada aku, tak ada alasan untuk tidak menjadikannya imamku”, Allah menunjukkan hamba-Nya. Saat ku bermimpi mempunyai pendamping yang mempunyai pengetahuan agama lebih banyak dariku, dan Allah meng”iya”kan nya. Saat ku mendamba mempunyai pendamping yang sabar, dan Allah mengangguk. Saat ku membayangkan mempunyai pendamping yang pengagumi alam, dan Allah mendekatkannya. Dan semuanya nyata sekarang.

Hati dan pikiran ini sepenuhnya untuknya. Ketika jarak menjauhkan, jarak juga lah yang menguatkan. Saat rasa rindu menyelubungi raga dan batin, Allah lah sandaran utama. Ketika banyak hati yang mengusik untuk  menghampiriku, telah kutetapkan untuknya.Ketika banyak senyum tertebar untuknya, Ya Robb kuatkan hatinya untukku. Sosok sempurna untukku. Tak ada alasan untuk tidak menyayanginya. Rasa itu tulus. Rasa itu jujur. Rasa itu dari hati. Rasa itu tak bisa dibohongi.

Bersama, menggapai ridho dari-Nya.

(Senin, 24 September 2012 -09.45- )

Rabu, 28 Maret 2012

Bukan keadaan yang mudah diterima


Ternyata nyaliku ga setegar omonganku, ketika kata itu terlontar dari mulutnya,, pada mulanya aku biasa saja, tapi sekarang?? Aku kehilangan separuh hatiku..

Ya mungkin karena keegoisanku yang mengantarkanku pada keadaan yang seperti ini. Keadaanan yang semua lelaki pasti ga mau menerimanya dengan lapang dada. Tapi aku punya alasan yang kuat mengapa melakukan hal ini. Aku ga ingin salah pilih, semuanya ga bisa diputuskan secara spontan karena ini menyangkut masa depan. Pacaran bukan lagi orientasiku, tetapi menjalin hubungan yang lebih serius adalah yang utama.

Aku terpesona dengan parasnya, ya kuakui itu. Senyuman itu masih membekas di ingatan. Masih teringat segar obrolan ringan di desa itu, di depan ruang itu, di dieng, di toga mas, di matos, di kayunyun, di mog, dan berakhir di warna-warni. Kenangan-kenangan yang akan menjadi kenangan manis untukku.

Aku suka padanya..

Aku peduli padanya..

Aku ingin mengenalnya lebih dekat lagi..

Namun,, aku masih belum bisa menerima kehidupannya yang berbeda 180 derajat dengan kehidupanku.
Rasa di hatinya yang semakin memudar karena pola pikirku yang terlalu panjang, ya inilah yang membuat semuanya semakin rumit. Sebenarnya keyakinanku kepadanya sudah semakin meningkat, tinggal menunggu waktu aja aku meng “iya” kan semua permintaannya, tapi ternyata keadaan berkata lain dan aku pun tak bisa memaksakan hal itu.

Rasa suka, sayang, jengkel, rindu, semuanya bercampur aduk bersama alur pikirku yang semakin ga jelas.
Restu orang tua juga sudah ditangan.

Sudah mulai ku mengungkap siapa sosoknya di depan teman-temanku. Sudah mulai ku membuka diri kepada teman-temannya.

Ya,, dialah lah yang mengisi pikiranku selama ini.

Rasa sayangku masih ada untuknya.

Aku sayang kepadanya.


(Rabu, 28 Maret 2012 -17.40- )

Jumat, 29 Juli 2011

Belajar Saat Kehilangan

“Baru aku tahu cinta itu apa, setelah kau bukan milikku..”
“Baru aku tahu sakit itu apa setelah kau hapus cintaku, yang dulu ada dalam hatiku..”

Petikan dua kalimat lirik lagu diatas sekiranya sudah jelas menggambarkan perasaanku saat itu.  Dhila, seorang anak yang keras kepala dan semaunya sendiri yang menganggap bahwa dia akan bisa baik-baik saja jika memutuskan hubungan dengan pacar yang telah menemaninya tiga tahun ini, ternyata…???

Semua diluar prediksiku..!!
Aku rapuh,, aku lunglai..

Saat itu memang saat titik puncak kejenuhanku. Dimasa liburan panjang seperti sekarang ini, banyak perhatianku yang tercurah untuk keluarga dan “dunia pribadiku”. Hal ini lah yang mengakibatkan aku terhanyut dan melupakan keberadaannya.

SMS datang kuabaikan,, telpon menjerit minta diangkat kubiarkan. Padahal pada saat itu aku tahu, dan bahkan kusengaja untuk tidak memberikan sedikitpun respon untuk teriakan HP ku.

“Aku sudah tak sanggup lagi berubah,, aku capek,, bagaimana kalau hubungan kita sampai disini saja.”

Ya itu lah kata yang meluncur dengan lancarnya dari mulut ini. Begitu spontan dan tanpa pikir panjang. Saat itu aku begitu yakin mampu berdiri tegar tanpanya. Hidupku akan baik-baik saja tanpanya.

Tapi apa yang terjadi????

Setelah tawaran untuk “break” dahulu sebagai alternative penyelamatan hubungan ini disepakati, hati ku berkata lain. Memang pada malam itu aku merasakan “sedang jatuh cinta” pada nya,, tapi sepertinya dia lelah dengan perubahan yang terjadi pada ku,, kadang “iya” kadang “tidak” seenaknya sendiri. Dan aku pun membuka hati ku lebar-lebar saat keputusan ini tetap diambil. Dengan niat Bismillahirohmanirokhim,,kami no contact saat telepon ditutup dan akan berhubungan kembali setelah 30 hari kemudian.

Ya Allah,, ternyata berat menjalani ini semua. Kebiasaan-kebiasaan yang telah mendarah daging selama tiga tahun harus kuubah dalam waktu singkat. Sungguh diluar kuasaku.

Hari pertama. adalah hari yang terberat. Aku hanya “mengintip dunianya” dari balik akun pribadinya. Aku ingin tahu sedang apa dia disana. Saat itu entah berapa kali aku membuka dan menutup saluran internetku hanya untuk “menyintipnya” dalam waktu yang berbeda. Saat itu aku benar-benar seperti orang linglung. Memang aku tidak menampakkan kelinglunganku di hadapan keluargaku, aku hanya menyimpannya di dalam hati. Pikiranku kacau balau gara-gara ini. Aku berusaha untuk tidak memikirkan hal ini, aku berusaha untuk membohongi diriku sendiri, dan ternyata GAGAL..!!

Hari kedua. Memang lebih sedikit bisa beradaptasi daripada hari pertama, tapi hanya SEDIKIT. Pikiran masih melayang-layang entah kemana. Semua aktivitas saat itu kujalani dengan perasaan yang serba tidak tenang. Dan air mata pun mengalir saat menjelang tidur malam.

Hari ketiga. Sungguh ku sudah tak sanggup lagi terkacaukan pikiran gara-gara masalah ini. Saat tengah siang hari, kuputuskan untuk menelponnya, mengakhiri program siksaan batin ini. Ku sudah lelah dengan kebohongan yang kubuat sendiri. Berlagak sok tegar padahal rapuh. Berlagak sok ga butuh padahal butuh. Dan berlagak sok ga sayang padahal sayang.

Ya,, saat itulah program yang kami rencanakan 30 hari hanya bertahan 3 hari. Banyak pelajaran yang bisa kuambil dari 3 hari ini.

3 hari yang sudah cukup “gila” dengan perasaan, “gila dengan emosi”, dan “gila” air mata.

Dan aku sadar sekarang, ternyata AKU SAYANG KEPADANYA.. :) :) :)

Minggu, 17 Juli 2011

Petualangan di Kampung Idiot yang Menawan

Kampung idiot adalah label yang disematkan oleh para jurnalis yang meliput keadaan kampung ini. Mendengar label yang disematkan tersebut, sangat miris rasanya. Ternyata di kabupaten yang terkenal dengan kesenian Reognya ini ada beberapa penduduknya yang kurang beruntung yang bisa dikatakan “berkumpul” dalam satu wilayah yang tersebar dalam beberapa desa. Pemberitaan di media elektronik yang semakin gencar tentang kampung idiot ini, menggelitik hati saya untuk pengunjunginya untuk melihat bagaimana keadaan disana secara langsung apalagi setelah mendengar telah diresmikannya Rumah kasih sayang oleh Menteri Sosial sebagai wadah untuk melayani dan mensuplai kebutuhan makan untuk saudara-saudara kita yang kurang beruntung ini serta pembekalan keterampilan guna membantu kondisi keuangan mereka yang compang-camping.

Dan gayung pun bersambut. Pepatah yang mengatakan bahwa bila ada kemauan disitu ada jalan ternyata benar. Sore itu, Rabu 13 Juli 2011 sekita pukul 17.15, saya menghubungi mas Subekhi. Beliau adalah wartawan RCTI yang bertugas di wilayah Ponorogo-Pacitan. Perkenalanku dengan beliau bermula saat aksi ngamen puisi ku saat kelas 2 SMA sebagai sarana untuk menguatkan mental yang dibuat oleh para pembinaku. Saat itu kami disuruh membawakan puisi dari instansi ke instansi, bermula dari Diknas, Kantor Bupati, DRD, Polres, dsb. Dan saat itulah mas Subekhi meliputnya bersama dengan wartawan-wartawan lain. Di sms yang kutujukan pada mas Subekhi sore itu hanya menanyakan kabar. Dan beliau bilang pada saya kalo baru pulang dari desa Krebet, habis ngliput dari Krebet. Mendengar kata krebet, hatiku langsung sumringah dan penasaran dimana tepatnya desa itu. Dulu sebenarnya pernah saya bersama: Icha, Ethies, Dwi, Deta, Ecy, Yasin, Nino, dan Didik. Misi kami saat itu adalah survey dimana lokasi desa yang banyak masyarakatnya yang menderita keterbelakangan mental, tetapi rencana kami tidak tepat sasaran. Kami tidak menemukan tempat yang dimaksud tetapi kami sempat berbincang dengan kepala desa Sidodadi. Sidodadi merupakan salah satu desa di kawasan krebet, tetapi masih di wilayah dataran rendah, padahal masyarakat yang banyak menderita keterbelakangan mental masih diatas gunung sana. Karena semua tidak mengetahui dimana jalan menuju desa Sidowayah, akhirnya kami menghentikan langkah kami di desa Sidodadi tersebut.

Kembali ke ke topik utama. Mas Subekhi pun memberitahukan alamat desa tersebut. Kuutarakan niat ku bahwa sebenarnya saya ingin kesana dari dulu, tapi ga ada teman kesana. Dan beliau pun menawariku untuk ikut meliput bersamanya besok pagi. Tanpa berfikir panjang, langsung ku-iya-kan ajakan tersebut. mas Subekhi menyuruhku membawa anak ayam untuk diberikan kepada orang yang disana, memberi uang sangat tidak mendidik katanya. Sempat bingung juga sih saat beliau berkata seperti itu. Saat itu keadaan sudah jam 8 malam, rumah ga ayam, dan besuk harus berangkat pagi jam 8, dimana aku harus mencari anak ayam?, akhirnya saya meminta izin kepadanya untuk tidak membawa anak ayam dengan alasan tersebut, dan beliau pun memakluminya. Kepastian kami untuk berangkat besuk pagi jam 8 dan ketemuan di pertigaan kerun ayu pun sudah fix. Dari situ saya baru terlintas, sepertinya kalau mengajak teman labih asik. Kuhubungi Maria, tapi dia di Solo. Sempat mau mengajak mas Avin, tetapi aku sungkan. Akhirnya aku mengajak Hayu (pacarnya dek Agam) dan dia pun mau. Malam itu, aku tidur dengan perasaan yang amat sangat bahagia, tak sabar menunggu hari esok.

Pagi menjelang, persiapan pun sudah kulakukan. Pukul 07.30 saya sudah rapi, tinggal menunggu kedatangannya Hayu. Sempat panik juga sih saat sudah pukul 8 tetapi Hayu belum datang juga. Tak sms juga ga ada respon. Aku berusaha menenangkan diri, dan tak samapi 5 menit Hayu pun datang. Tanpa membuang waktu, kami langsung berangkat menuju pertigaan kerun ayu karena waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 8.10. Aku ga mau mas Subekhi yang menunggu, mending aku yang mengunggu. Dalam penungguan kami, aku sangat terkejut ketika dihampiri oleh seorang yang pernah ku kenal wajahnya. Berlagak sok ga kaget, aku senyam-senyum menyambutnya. Setelah berbincang menanyakan kabar, aku baru ingat ternyata itu teman SD ku. Namanya Kharis Ahmadi, agamis banget orangnya.

Sekitar pukul 9 akhirnya mas Subekhi datang. Sebelum berangkat beliau menyuruh kami untuk membeli air mineral dan camilan, dan kami pun menurutinya. Setelah perbekalan kami cukup, akhirnya kami bertiga cap cus ke arah barat menuju kecamatan Jambon. Beliau sempat berpesan bahwa yang di depan yang mahir bawa motor ya, soalnya medannya sedikit berat. Sang ayam yang ada di dalam kardus pun ikut menemani perjalanan kami. Dan  Hayu yang kebagian bawa kardus yang berisi ayam itu!hehehe…  Sedikit agak kendandapan mengikuti laju kendaraannya mas Subekhi, lumayan cepat, sedangakan aku tak terbiasa mengendarai dengan cepat. Sekitar 15 menit perjalanan, kami sampai di pasar Jambon, lalu sampai di pasar krebet, lalu masuk desa krebet, dan berhenti di balai desa Sidoharjo. Mas Subekhi memberitahu kami kalau mampir dulu disini, nyari data. Hampir satu jam aku dan Hayu duduk di dalam kantor desa mengunggu mas Subekhi menjalankan tugasnya, yaitu wawancara kepada perangkat desa setempat. Rasa penasaran kami ingin segera melihat bagaimana keadaan kampong idiot secara langsung pun semakin menyeruak. Waktu berjalan sangat lama. Disini kami juga sempat dikira wartawan RCTI, padahal kita kan cuma numpang ikut!hehe.. Dan akhirnya sekitar pukul 10.15 kami meninggalkan kantor desa tersebut.

Ditengah perjalanan menuju dusun Sidowayah, mas Subekhi yang selalu memacu motornya di depan motor kami sedikit menepi dan mengengok ke arah kami. “Bentar ya, mau ngambil gambar dulu” katanya. Kami pun mencari tempat yang teduh untuk memarkir kendaraan kami dan mengekor mas Subekhi  ke ladang ketela pohon yang ada di bawah jalan. Disana kami menemui satu keluarga: bapak, ibu, anak, dan cucu nya mengupas ketela pohon. Didepan mereka ada tumpukan ketela pohon yang belum dikupas dan yang telah dikupas, di depan mereka ada hamparan tegal yang lumayan luas dan panas dengan sekiratan sepertiga ketela yang belum dipanen. Tempat mereka mengupas ketela pun sangat sederhana, hanya tumpukan daun kelapa sebagai pelindung dari panas. Mereka duduk di bawahnya dan saling bersenda-gurau. Sepertinya pekerjaan ini sudah tidak asing lagi bagi mereka. Mereka terlihat terampil sekali mengupasnya. Mas Subekhi mulai melancarkan aksinya, tanya ini tanya itu, ambil gambar ini itu, dan akhirnya kami berpamitan pada keluarga tersebut denagn ucapan terima kasih dan kami melanjutkan perjalanan.

Aku dan Hayu tak pernah tahu kemana saja kami akan mencari berita. Mas Subekhi tak menceritakan rencana perjalanannya dan kami pun enggan untuk bertanya. Kami disini hanya ikut menemani sang wartawan mencari berita dan melihat bagaimana keadaan nyata kampung idiot tersebut. Selepas naik dari tegal (ladang) ketela pohon tersebut, kami menuju motor masing-masing. Nyali ku sempat ciut ketika menatap jalan menanjak persis dihadapan  mataku. Sempat ragu apakah aku bisa melewati jalan ini. Tapi Hay uterus menguatkan hatiku, dan Bismillahirohmanirokhim,,, gigi satu kumasukkan dan menaklukkan jalan menajak tersebut. Dan Alhamdulillah, bisa terlewati dengan lancar. Jalan yang kami lewati pun sudah semakin mengecil, berbatu, dan berkelok-kelok. Memang kawasan Sidowayah ini adalah kawasan yang berada digunung padas dan berbatasan dengan Badegan. Setiap belokan jalan memberikan kejutan tersendiri untukku yang belum pernah memacu motorku di medan yang sesulit ini. Tapi dengan Bismillah, aku pasti bisa. Sekitar 5 menit perjalanan, kami berhenti ke rumah warga untuk menanyakan dimana rumah Kamituo berada. Dan tak jauh dari situ, akhirnya kami menemukan rumah Kamituo tersebut. Turunan tajam menjadi tantangan tersendiri menuju rumah Kamituo tersebut.

Sempat kaget ketika memarkirkan motor di depan rumah pak kamituo tersebut, dentungansuara  keras menggema dari rumahnya. Saya semakin penasaran dengan suara tersebut, seperti suara musik tapi sangat keras. Dan ternyata setelah kami masuk ternyata beliau sedang memutar VCD aktraksi sirkus gajah di dengan menggunakan LCD proyektor. Sempat bertanya-tanya juga sih, ko di desa ini punya LCD. Ku memutar mataku, mengawasi setiap detai rumah milik bapak muda ini, sunguh perbuatan yang tidak terpuji!hehehe.. Rumah yang lumayan bagus bila dibandingkan dengan rumah disamping kiri dan kanannya. Terbuat dari batu bata namun tanpa plester, berlantai tanah, kursi tamu yang ada di pojok depan menyatu dengan ruang keluarganya, dua buah ruangan kamar di sebelah kanan kursi tamu, dan ruangan panjang di sebelah kiri kursi tamu. Sebenarnya rumah bapak ini sangat sederhana, satu rumah yang terbagi menjadi 3 ruangan inti. Yang membuat aku dan Hayu tertegun ketika bapak ini mengambil notebook axioo dari dalam kamarnya guna memaparkan program kerja yang telah dilaksanakan untuk menuju Sidowayah bangkit. Kebetulan Bapak Kamituo ini adalah salah satu anggota forum Sidowayah bangkit yang mempunyai program kerja meningkatkan kondisi masyarakat sidowayah dari berbagai segi. Memberi pelatihan keterampilan, program kambing bergilir untuk membantu meningkatkan kondisi perekonomian masyarakatnya, program Sidowayah terang dengan Pembangkit Lisrtik Tenaga Surya (PLTS), dsb. Hal lain yang membuat aku dan Hayu saling menatap dan tersenyum adalah ketika istri bapak kamituo tersebut mengambil hairdryer dari dalam laci lemari di ruang keluarga dan membawanya ke kamar. Tak kami sangka, ternyata maju juga disini, ada yang punya alat pengering rambut segala, padahal kami tak punya!hehehe… Sekitar 30 menit kami berada di dalam rumah tersebut, dan perjalanan pun dilanjutkan.

Saat itu sekitar pukul 11 siang. Laju roda  motor kami menggiring kami ke rumah mantan kepala dusun Sidowayah yang letaknya tidak lumayan jauh dari rumah bapak Kamituo tadi, tetapi karena medannya yang berkelok-kelok, jadi terasa jauh. Disana kami sudah disambut tiga orang anggota forum yang berkaos sama. Rumah mantan kepala dusun ini sudah bisa dibilang bagus bila dibanding rumah sekitarnya. Dindingnya sudah terbuat dari batu-bata, berkeramik, ada sofa, buffet, dan perabot kecil penghias buffet. Disini Mas Subekhi mengutarakan keinginannya untuk meliput: orang yang keterbelakangan mental berat, orang yang keterbelakangan mental ringan yang mempunyai keterampilan menganyam (mbah Waginem), dan kambing yang diberikan kepada masyarakat secara bergilir tersebut. sekitar 5 menit berdiskusi yang mana dulu yang dikunjungi, akhirnya kami ke rumah orang yang keterbelakangan mental klasifikasi berat. Secara beriringan, 5 motor menuju rumah orang tersebut. Kami ditemani 5 orang anggota forum, termasuk bapak kamituo. Perjalanan dimulai. Ditengah teriknya sinar matahari, kami menuju rumah mbah (saya tidak tahu namanya, jika anda melihat liputan kampong idiot di Seputar Indonesia Akhir Pekan hari minggu (17 Juli 2011), mbah tersebut adalah orang yang diwawancara).

Sungguh ironis keadaan dirumah tersebut. Gelap dan kotor. Mbah tersebut sudah tua, suaminya sudah meninggal, dan hidup bersama anak cucunya. Salah satu anaknya adalah Wagino (kalo ga salah) yang menderita keterbelakangan mental berat, beliau sudah dewasa tapi tidak bisa apa-apa. Hanya duduk di teras rumahnya, tanpa bisa berkata-kata dan berjalan. Sesekali hanya tersenyum saat melihat aku duduk yang berjarak sekirar 1 meter. Beliau hidup sangat tergantung pada ibunya, mulai dari makan, mandi, dsb.  Sekitar 20 menit mas Subekhi meliput dan mewawancarai mbah tersebut. Sembari menunggu mas Subekhi, aku bertanya pada cucunya mbah itu yang masih kelas 1 SD. Dan baru kusadari ternyata anak kecil tersebut sepertinya menderita tuna rungu ringan. Hal ini terbukti dengan minta diulangi lagi pertanyaan yang kuajukan kepadanya. Kasihan anak ini. Ketika pengambilan  gambar dan wawancara dirasa cukup kami pamit pulang. Sebelum kami pamit, mas Subekhi meminta saya untuk memberikan ayam yang telah dibawanya dari rumah untuk mbah ini, dan akhirnya kami pamit. Perjalanan pun dimulai lagi.

Seperti sebelumnya, Aku dan Hayu tak pernah tahu mau kemana lagi, kami hanya menurut saja. Jalan berbatu, berdebu berkelok-kelok kami lewati. Medan yang cukup sulit untukku. Hingga di tengah perjalanan, Hayu tak minta untuk turun ketika gas motor saya tidak kuat lagi memutar roda saat tanjakan tajam, berliku, dan berpasir. Saat itu saya sempat panik, dan bapak-bapak forum pun juga terlihat mengkhawatirlkan aku. Saat itu kebetulan kami ber 8, dan hanya aku dan Hayu yang cewek. Dengan sangat hati-hati dan sedikit kepanikan, akhirnya aku bisa menuntaskan tantangan jalan tersebut, Alhamdulillah. Legaaa,, tapi was-was juga, nanti pulangnya gimana ya???, tapi masalah nati pulangnya gimana, tidak ku pikirkan dulu, nanti pasti ada jalan. Tak jauh dari tanjakan extreme tadi, kami menuju jalan sempit dengan kiri kanan diapit ladang, dengan jalan khas pegunungan yang sempit dan berbatu, akhirnya kami sampai juga di halaman mushola yang sederhana.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.20 ketika kami memarkirkan kendaraan di halaman di depan mushola tersebut. Mushola tersebut sangat-sangat sederhana dengan sebelah kanannya adalah kamar mandi umum dan tempat wudhu denagn sumber air yang terus mengalir dari tanah. Hawa yang panas seketika menjadi dingin dan sejuk ketika ku mengambil air wudhu dan sholat dzuhur di mushola tersebut. Setelah sholat, aku duduk menghampiri Hayu yang telah duduk manis di pangkal pohon jati yang telah di tebang. Benar-benar suasana desa banget, damai dan tenang. Orang-orang yang kebetulan lewat di depan kami menyapa dan menghampiri kami dengan sangat ramah. “Monggo mbak kendhel”, “Monggo mbak pinarak”, “Pripun mbak, wilujeng?”,,,keadaan yang tak pernah kujumpai di kota Malang. Agak lama kami bertahan disini. Aku dan Hayu memang sengaja menjauh dari Mas Subekhi yang sedang melakukan sesi wawancara. Kami asik ngobrol dengan orang yang kebetulan duduk di dekatku. Aku banyak bertanya mengenai dusun Sidowayah ini yang ternyata sudah sangat amat sering didatangi wartawan untuk diliput. Sesi wawancara selesai, tapi pengambilan gambar belum selesai. Mas Subekhi asik sendiri dengan handicam-nya ketika para anggota forum duduk melingkar menikmati suguhan teh hangat dari warga yang tinggal disekitar mushola tersebut.

Ketika teh yang ada di gelas sudah habis, rombongan kami beranjak dari tempat yang sangat teduh dengan angin yang semilir tersebut. Kali ini kami tidak menggunakan motor, kami berjalan kaki menuju lokasi berikutnya karena lokasinya tidak begitu jauh katanya. Dengan semangat empat lima, kuayunkan kaki ini melewati jalan setapak dekat ladang, menyebrang sungai, melintasi ladang, dan akhirnya kami menemukan rumah penduduk persis di bawah tempat kami berjalan. Di bawah kami, ada sekitaran 4 rumah penduduk yang nampak genting hitam dan pemandangan khas dusun Sidowayah, yaitu gaplek (ketela pohon yang dikupas dan dijemur). Tepung gaplek atau yang lebih dikenal dengan sebutan tiwul adalah makan sehari-hari penduduk dusun sidowayah ini. Harga beras yang mahal membuat mereka mengkonsumsi tiwul sebagai pengganti beras. Kondisi tanah pegunungan yang kering dan tandus tidak memungkinkan penduduk sekitar untuk menanam padi, alhasil mereka menanam ketela pohon yang bisa hidup dilahan kering dan tidak membutuhkan banyak air. Sehingga tidak keran ketika banyak dijumpai gaplek di halaman dan genting rumah mereka.

Jalan yang kami lewati menuju rumah mbah Waginem (penganyam tikar mendong) menurun, sehingga mudah kami lalui dengan jalan kaki. Sempat kecewa ketika sampai di rumah mbah Waginem yang ternyata rumahnya terkunci. Akhirnya kami dan rombongan memutuskan untuk turun ke bawah melewati sungai menuju rumah penduduk yang diberi sumbangan kambing. Sambutan masyarakat disana sangat hangat. Saat itu kami melewati depan rumah warga yang kebetulan sedang bersantai di depan rumah, beliau menawari kami untuk mengambil degan yang berbuah banyak. Dengan malu-malu, para bapak-bapak forum menerima tawaran tersebut, tapi mereka bilang nanti dulu habis ini. Disitu kami bertemu mbah Waginem, legaaaa rasanya, orang yang dicari-cari dari kemarin akhirnya ketemu. Karena kami terlanjur di bawah, mas Subekhi memutuskan untuk mengambil gambar di rumah warga yang medapatkan bantuan kambing dulu baru nanti ke rumah mbah Waginem. Sungguh tercengang ketika kami melihat atap depan rumah warga tersebut yang tersusun dari daun jati yang sudah mengering. Temboknya pun hanya dari bilik compang-camping yang ada sebagian ruangan yang tinggi biliknya ga sampai atap, dan berlubang sana-sini. Sungguh keadaan yang sangat memprihatinkan. Tak kujumpai kasur di rumah ini, hanya ambeh yang berlapis sak putih bekas tempat beras sebagai pengganti kasurnya. Aku salut dengan mereka, nampak dari wajah dan tutur katanya bahwa mereka sangat mensyukuri keadaan yang serba kekurangan ini, sehingga jatuhnya mereka sangat bisa menikmati hidupnya.

Selesai mengambil gambar dengan setting kandang kambing beserta kambingnya, kami berjalan kembali melewati rumah mbah yang menawari kami kelapa muda. Ternyata 4 orang bapak-bapak anggota forum tadi sudah berpesta dengan kelapa mudanya. Mereka sengaja menyisakan beberapa buah kelapa untuk kami, dan kami pun ikut larut dalam pesta kelapa muda tersebut. Panas-panas minum kelapa muda,,oooh segarnya… J. Tapi saat itu mas Subekhi malah sibuk sendiri mengambil gambarnya sendiri sebagai kata-kata terakhir untuk liputannya. Kami terus menikmati segarnya air kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya dengan sesekali tertawa lepas mendengar pembicaraan bapak-bapak forum dan tuan rumah.

Selesai pengambilan gambar ditempat itu, kami kembali ke atas. Kembali menyeberangi sungai dan naik ke atas. Tiba di depan rumah mbah waginem, kami disambut dengan anyamannya. Beliau mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya sembari beliau tetap menganyam tikar mendong. Tak menyia-nyiakan waktu, mas Subekhi mulai beraksi dengan kamera dan beberapa pertanyaan untuk mbah Waginem. Karena teriakan dari dalam rumahnya yang mempersilahkan Aku dan Hayu masuk, akhirnya kami masuk ke dalam dan melihat mbah Waginem menganyam dengan jari terampilnya. Sudah menjadi kebiasanku ketika bertamu dirumah orang, memutar mata dan mengamati apa yang ada di dalam rumahnya.. hehehe. Disini saya tercengang, bagaimana mbah Waginem bisa hidup hanya di rumah bilik ukuran sekiran 3x3 meter, seukuran kamarku. Disitu saya melihat dipan yang juga berfungsi sebagai kursi tamu, di sudut kanan ada tungku masak dan kayu, dan disebelahnya lagi ada ruang kecil bersekat kain, mungkin itu tempat Mbah Waginem menyimpan peralatan masaknya. Sungguh ga bisa membayangkan, bagaimana bila aku hidup dalam kondisi seperti Mbah Waginem. Ketika Mas Subekhi sudah cukup mengambil gambarnya, kami serobongan pamit untuk pulang. Dan kami pun dipersilahkan Mbah Waginem dengan sangat ramah.

Langkah kami kami dilanjutkan dengan kembali ke depan Mushola tadi. Berbeda saat berangkatnya tadi, kami harus melewati tanjakan untuk kembali ke atas. Sungguh tanjakan kecil dan curam. Nafas kami pun mulai sempat tersengal-sengal ketika menapaki tanjakan ini. Berangkatnya tadi sih enak, jalan turun,, lha sekarang?? Huiff,,

Tiba di depan Mushola, kami bertiga berpamitan denagn bapak-bapak forum dan berterimakasih telah bersedia mengantarkan kami. Kami berjabat tangan dan pulang bersama-sama. Sempat khawatir juga saat melewati jalan yang menukik tajam, curam, dan berkelok tadi yang mengharuskan saya menyuruh Hayu untuk berjalan kaki tadi. Kali ini kedua rem kumainkan agar laju kendaraan berkurang, dengan bacaan basmallah yang terus terucap dalam hati, ku lewati jalan yang menakutkan tersebut, dan Alhamdulillah aku bisa melewatinya… Legaaaa… suara klakson motor bapak-bapak forum melepas kepergian kami. Arah jalan pulang kami berbeda denagn mereka. Dan dari situ kami yang semula ber 8 hanya tinggal ber 3, Aku, Hayu, dan Mas Subekhi.

Berbeda saat berangkat tadi, jalan pulang kali ini terasa sangat cepat. Seneng rasanya bisa kembali menemukan aspal dan ini pertanda kalau medan perjalanan kami sudah tidak berat dan semakin mendekati kota. Ketika perjalanan pulang, mas Subekhi kembali memelankan laju motornya ketika bertemu dengan cewek yang menderita keterbelakangan mental yang berjalan di jalan. Beliau memberitahukan kepada kami kalo mau mengambil gambar, dan kami pun memarkirkan motor kami. Apa emang sudah bawaanya narsis ya cewek itu, ketika melihat kamera cewek tersebut langsung memasang gaya dan sadar kamera banget mendekati mas Subekhi. Aku dan hayu hanya bisa menahan tawa melihatnya. Cewek tersebut meminta uang ke mas Subekhi, dan beliau memberi kan uang 500. Lalu beliau pun meminta saya untuk memberi uang 1000 agar cewek ini tidak mengamuk, dan akhirnya cewek itu pun mendekati saya. sempat takut juga sih saat dia menunjuk cincin saya, kalo diminta lak  yo repot,,tapi setelah saya beri uang akhirnya cewek itu tersenyum dengan riangnya. Dan tidak berhenti samapi disini, cewek tersebut melirih Hayu yang berada dibelakang saya untuk dimintai uang. Dan hayu pun takut, alhasil saya berikan makanan ringan saya agar dia pergi. Dengan bergegas, kami meninggalkan cewek yang juga menderita bisu ini. Tapi ternyata si cewek memberi oleh-oleh berupa cowelan kepada Hayu saat kami sudah berada di motor!hahaha… Dan perjalanan pun selesai, sebagai penutupnya kami bertiga makan sore bersama sebagai pengganti makan siang yang terlewatkan.

Sungguh petualangan yang luar biasa di kampung idiot ini. Banyak pelajaran yang bisa ku ambil dari sini. Selain banyak-banyak mengucapkan syukur atas keadaanku sekarang ini, aku juga tahu bagaimana susahnya menjadi wartawan. Nyari berita seharian, tapi tayangnya cuma beberapa menit. Salut deh buat mas Subekhi. Makasih mas, sudah memberikanku pengalaman dan pelajaran berharga tentang hidup. Dan juga makasih Hayu sudah mau menemaniku seharian.

(Minggu, 17 Juli 2011, 23.48)

Sabtu, 05 Februari 2011

Dia Sahabatku...Dia Teman Hidupku..

Suatu cerita yang panjang ketika ku harus mengingat pertama kali ku bejumpa dengannya. Tanpa rasa, kita adalah teman sekelas waktu SMP. Kelas 1 D adalah tempat yang kami tempati bersama. Dia adalah seorang lelaki kecil yang duduk dibelakang bangkuku. Terlihat, dia sangat canggung sekali dengan yang namanya perempuan. Pembicaraan kami pun hanya sekedar guyonan singkat saat pelajaran lenggang atau saat guru tidak mengajar. Ya hanya itu lah, hanya sebatas teman yang tak pernah tahu asal usul nya. Aku hanya tahu daerah rumahnya, dia ke sekolah dengan naik abonemen… ya hanya sebatas itu saja. Aku malah lebih akrab dengan teman sebangkunya, Erwindra satriawan.

Kenaikan kelas mengharuskan kami berpisah kelas, aku di 2C bersama sahabatku Faricha hasinta, dan dia di kelas 2D. kelas kami terpisah lantai. Dia di lantai 2, sedangkan aku di lantai 1. Hal ini semakin menambah jarangnya intensitas kami bertemu. Sesekali ketika pulang dan bertemu di depan gerbang sekolah, olokan lah yang menjadi bahan sapaan kami. “Hai Ngampel…”,,itu lah kata yang selalu kuucapkan ketika bertemu dengannya. Ketika kelas ku pindah ke lantai atas, tepat disebelah kelasnya, kami pun tak sering berkomunikasi, hanya sesekali melelmpar senyum ketika bertemu. “dia temanku kelas 1 D dulu”,,itulah ucap dalam hatiku. Perhatianku malah tertuju pada seorang anak kelas 2 E yang tepatnya murid bapakku, Alfian Hari Mursanto. Aku penasaran dengan anak ini. Kebetulan kami adalah teman satu angkodes, sedikit demi sedikit prasa penasaranku mulai terjawab. Ternyata tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan.

Kelas 3 dimulai. Kelas baru, teman baru. Aku menempati kelas 3 C sekelas dengan Alfian, dan dia menempati kelas 3 D. Bisa dikatakan, kami kehilangan komunikasi. Kita tak pernah bertemu. Tak banayak yang kuketahui tentang dia saat kelas 3. Perhatianku tercurah pada penemuan sahabat baru ku. There are: Ethies Nugraha Prayojani, Maria Febriana, dan Dwi Novitasari. Sungguh ketakutan aku ketika masuk di kelas 3 C. aku sendirian. Tak ada yang ku kenal. Hanya Sinta yang kebetulan aku mengenalnya dari Noviana mengajakku menjadi teman sebangkunya. Faricha hasinta masuk ke kelas 3 I. mau tidak mau, aku harus berpisah dengannya. Temannya Faricha, begitulah aku menyebut nama Ethies Nugraha. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Topic pembicaan kami hanya sebatas Faricha, ya hanya itu saja, dan hanya itu topic yang membuat kami nyambung. Hari pertama aku duduk bersama Sinta, tapi hari kedua aku duduk bersama Ethies. Hari ketiga Dwi Nofitasari mengajakku untuk duduk du belakang mejanya, dan kami menurutinya. Mulai saat itu, hari-hari kami lalui berempat. Maria adalah teman sekelas ku waktu kelas 1, tapi aku juga tak begitu mengenalnya. Akhirnya kebersamaan ini terajut hingga sekarang.

Naik kelas 1 SMA. Kami semua bisa masuk di SMA 1 Ponorogo. Aku sekelas dan sebangku dengan Ethies lagi di 1.7 sedangkan Icha, Maria, dan Didik di kelas 1.6, dan dwi ada di kelas 1.4. kelas 1.6 dan 1.7 yang bisa dikatakan berhadapan membuat intensitas ku bertemu dengannya bertambah, tapi tetap tanpa komunikasi yang lebih. Hanya bertegur sapa saat betemu. Satu hal yang kuingat dengannya: dia berkacamata dan naik motor vega orange. Penampilannya bukan aku banget, tapi ya I don’t care, toh aku juga ga mengenalnya terlalu dekat. Persahabatan kami berempat semakin terpupuk. Entah kapan tepatnya Faricha “menyusup” pada kelompok kecil kami. Penyusupan ini dikarenakan Faricha adalah teman pulangnya ethies dan teman sebangkunya maria. Tapi pada saat itu, icha juga tergabung dalam kelompok lain teman-temannya semenjak SMP kelas 3, nah lho cha..pusing kan kamu.. hehehe……… Dengan berjalannya waktu, intensitas icha dalam kelompok kami semakin sering, dan ini lah yang menyebabkan kita semakin dekat. Kami mengikrarkan diri,,kami berlima adalah sahabat. Hari-hari kami lalui bersama berlima. Makan bareng walaupun hanya di jus-jusan dengan harga 1000 rupiah. Nonton film juga menjadi rutinitas kami sepulang sekolah.

Kelas 2. Aku, didik, dan icha satu kelas di kelas 2 IPA 2. Ya bisa dikatakan, di kelas ini lah rasa kepercayaan diriku terhadap teman yang pintar dan kaya muncul, tepatnya setelah aku didaulat menjadi sutradara gagal waktu pelajaran ECC. Bila mengingatnya, itu lah amanat terberat yang pernah ku ambil. Aku harus mengatur kelas sedemikian rupa, padahal di kelasku ada Sanjiva, Rizky, Rosa. Mereka bisa dikatakan orang terpandang di sekolah. Dan aku mengatur mereka dalam sebuah scenario yang aku sendiri tidak mengerti dialognya,,lha wong pake bahasa inggris..aku hanya mengira-ngira bagaimana posisi mereka. Hahahaha,,sungguh sutradara yang aneh dang a jelas.

Di kelas ini lah ketekatanku dengannya mulai terajut kembali setelah aku meminta i-ring gratis darinya karena hanya nomernya kah yang bisa mengirim i-ring gratis. Tak ada rasa sama sekali ke dia. Perhatianku terpusat pada organisasi teaterku dan kakak pembinaku. Hingga suatu ketika aku di “tembak” kakak kelas ku, dan dia mengancam segala rupa untuk mendapatkanku. Ketakutan ini yang menjadi penyebab ku mulai berceruta kepadanya melalui sms. Aku tahu pada saat itu, dia sedang merajut cinta dengan perempuan yang telah dipacarinya sejak kelas 3 SMP. Kami sering berbagi cerita masing-masing. Aku tentang kisah cintaku yang menerima ancaman, dan dia bercerita tentang kisah cintanya yang sudah tidak sehat lagi. Dari sini lah kami menjadi sahabat.

Kelas tiga kami tetap satu kelas, di kelas 3 IPA 2. Komunikasi kami semakin intens. Kami sering ngobrol saat jam sekolah belum dimulai atau saat jam sekolah berakhir. Tapi tetap ku tak ada rasa untuknya. Dia bukan tipe ku. Kami hanya sahabat, itulah ikrar kami saat itu. Tetapi hato berkata lain, ternyata diam-diam dia menyukai ku, dan itu baru ku ketahui pada akhir kleas 3. Memang aku bukan orang yang peka, aku tak pernah tahu siapa yang menaruh rasa denganku sebelum dia mengungkapkannya sendiri. Ku tak mau di anggap Ge-Er.

Penolakan pun bersambut. Penolakan ini memang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari, aku tahu dia akan menembakku dari Icha, sahabatku. Ternyata dia sudah menceritakan semua perasaanya kepada Icha sejak dulu, tapi icha tak pernah memberitahuku. Tapi pada akhirnya ketika aku di Jakarta, Icha memberitahu ku tentang semua perasaan didik kepadaku. Dan aku shock. Parkiran belakang sekolah adalah saksi bisa penolakannku untuknya. Memang dia bukan tipe ku. aku hanya menganggapkan sebagai sahabat.. Hanya SAHABAT.. dan dia menerima itu.  Penolakan ini tak membuat kami putus silahrurahmi, kami masih saling berhubungan seolah tanpa ada apa-apa. Dan ternyata, dia mengungguku. Dan aku tidak tahu akan hal ini.

Food Court Matos adalah tempat penolakannku kedua. Dia memaksaku memberi sebuah kepastian tentang hubungan ini. Memang hubungan kami adalah hunbungan yang aneh. Pacaran tidak, tapi tidak pacaran ya tidak. Ya bisa dikatakan hubungan kami ini adalah hubungan tanpa status yang saling mengisi satu sama lain. Aku merasa sendiri, benar-benar sendiri. Dia akan pergi jauh dalam beberapa hari ke depan setelah penolakanku ini. Hubungan persahabatan kami tergoncang. Aku sebenarnya ingin terus menjaga persahabtan ini hingga mati, tapi alam berkata lain. Dalam bayanganku, aku tak berani hidup sendiri. aku butuh dia. Dia tempat berkeluh kesahku. Aku tak mau dia pergi untuk selama-lamanya. Hal ini terus berputar dalam benakku. Dan hal ini lah yang membuatku memberanikan diri untuk menjalin hubungan yang “jelas” dengannya. Aku minta persetujuan kedua orang tuaku, bagaiman bila aku bersamannya. Dan orang tua ku menyerahkan semua keputusan ini kepadaku. Dan aku akhirnya membuat gebrakan baru. Ku mulai menata ahati untuk menerimanya sebagai orang special di hari, walaupun itu berat, tapi aku terus mencobanya. Tanpa ikrar dan perkataan, aku menganggap Selecta adalah tempat dimana aku memulai status baru dengannya. Ini adalah dari pihakku. Tak pernah ada tanggal jadian atau umbaran kata-kata cinta. Benar-benar mengalir. Bila di Tanya akapan jadian, aku sendiri tidak tahu, ya itu tadi kuanggap saat di selecta itulah kehidupan baruku terbentuk.